Politik Prestasi: Membangun Ekosistem Olahraga Berkelanjutan di Kalbar
Dunia olahraga tidak pernah lepas dari kebijakan yang mendasarinya. Di Provinsi Kalimantan Barat, istilah Politik Prestasi mulai dipahami bukan sebagai politisasi atlet untuk kepentingan praktis, melainkan sebagai sebuah kemauan politik (political will) dari para pemangku kebijakan untuk menempatkan olahraga sebagai prioritas pembangunan daerah. Keberhasilan seorang atlet di podium juara sering kali merupakan puncak dari gunung es kebijakan yang terstruktur di bawahnya. Tanpa adanya dukungan regulasi, anggaran yang transparan, dan visi jangka panjang dari pemerintah daerah, potensi atlet yang luar biasa di Bumi Khatulistiwa ini hanya akan menjadi bakat yang terbuang tanpa wadah yang memadai.
Langkah utama dalam Membangun Ekosistem olahraga yang sehat di Kalimantan Barat adalah dengan menyinergikan peran pemerintah, swasta, dan masyarakat. Ekosistem ini mencakup ketersediaan infrastruktur yang merata hingga ke tingkat kabupaten dan desa, sistem pemanduan bakat sejak dini, hingga jaminan kesejahteraan bagi mereka yang telah mengharumkan nama daerah. Kalbar memiliki tantangan geografis yang luas, di mana akses terhadap fasilitas pelatihan sering kali terpusat di ibu kota provinsi. Oleh karena itu, kebijakan politik harus mampu menjangkau wilayah pelosok, memastikan bahwa anak-anak di pedalaman Kapuas Hulu atau pesisir Ketapang memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pelatihan standar nasional.
Konsep Olahraga Berkelanjutan menjadi sangat penting agar prestasi tidak hanya muncul secara sporadis atau sekali dalam satu dekade. Keberlanjutan berarti menciptakan sistem regenerasi yang tidak pernah putus. Di Kalimantan Barat, hal ini dapat diwujudkan melalui penguatan kelas-kelas olahraga di sekolah dan integrasi antara kurikulum pendidikan dengan jadwal pelatihan atlet. Politik prestasi dalam hal ini bekerja dengan cara memastikan bahwa anggaran untuk olahraga tidak hanya dialokasikan untuk membiayai pengiriman atlet saat turnamen, tetapi lebih banyak diinvestasikan pada pembangunan sumber daya manusia, seperti sertifikasi pelatih berkualitas dan peningkatan kualitas gizi atlet secara konsisten sepanjang tahun.
Tantangan besar dalam mengembangkan prestasi di Kalbar adalah bagaimana menarik minat sektor swasta untuk turut serta dalam pendanaan. Kebijakan pemerintah daerah harus mampu menciptakan iklim investasi yang menarik bagi perusahaan, misalnya melalui skema insentif pajak bagi korporasi yang membina cabang olahraga tertentu. Dengan adanya kolaborasi ini, kemandirian finansial organisasi olahraga akan lebih terjaga, sehingga program pembinaan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada fluktuasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Kemandirian ini adalah kunci agar ekosistem olahraga tetap berjalan stabil meskipun terjadi pergantian kepemimpinan politik di masa depan.